Status Gizi Mahasiswa STIKES YARSI Mataram
DOI:
https://doi.org/10.57267/jisym.v12i1.158Abstract
Kualitas generasi penerus bangsa sangat ditentukan oleh remaja perempuan
yang berperan sebagai calon ibu. Kematangan fisik dan psikologis remaja
perempuan sangat mempengaruhi kesiapan perempuan menjadi seorang ibu di
dalam sebuah keluarga yang sehat. Data Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun
2018 melaporkan bahwa provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mempunyai
perempuan usia >18 tahun kurus berdasarkan IMT sebanyak 12%, dan kota
Mataram mempunyai perempuan usia >18 tahun kurus terbanyak kedua
(14,02%) setelah kabupaten Lombok Utara yaitu 15,99%. Survei awal yang
dilakukan pada 20 orang mahasiswi di STIKes Yarsi Mataram pada bulan Pebruari
2021 ditemukan 30% mahasiswi mempunyai Lila <23,5 cm. Keadaan ini
menunjukkan bahwa tidak semua mahasiswi di STIKes Yarsi Mataram
mempunyai status gizi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
status gizi mahasiswi STIKes Yarsi Mataram sebagai deteksi awal kejadian kurang
energi kronis di lingkungan perguruan tinggi kesehatan. Penelitian ini
menggunakan rancangan deskriptif observasional dengan pendekatan potong
lintang. Populasi penelitian ini yaitu mahasiswi Program studi Keperawatan
jenjang D3, program studi kebidanan jenjang D3 dan program sarjana semester 1
dan 3 di STIKes Yarsi Mataram. Sampel diambil dengan menggunakan tehnik
purposive sampling pada mahasiswi semester 1 dan 3 yang menggunakan metode
pembelajaran luring dan tidak sedang praktek di luar kampus dengan jumlah 176
orang mahasiswi. Data primer yang diambil berupa BB, TB, dan Lila. Penelitian ini
dilakukan pada bulan September 2021 - Januari tahun 2022 di STIKes Yarsi
Mataram. Hasil penelitian ini menemukan sebagian besar mahasiswi STIKes Yarsi
Mataram mempunyai IMT normal (18,5-25), meskipun terdapat sebagian kecil
mahasiswi yang mempunyai IMT kurus (<18,5) dan IMT gemuk (>25). Sebagian
besar mahasiswi STIKes Yarsi Mataram mempunyai Lila normal (>23,5 cm),
namun sisanya mempunyai Lila risiko KEK (<23,5 cm). Diharapkan adanya
penningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku mahasiswi tentang pola makan,
asupan zat gizi dan body image secara intensif dari dosen bekerjasama dengan
ahli gizi.






