Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram https://journal.stikesyarsimataram.ac.id/index.php/jik <p>Journal Tittle : Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram</p> <p>Initial : JISYM</p> <p>Frequency : 2 issues per year (January &amp; July)</p> <p>DOI : Prefix 10.57267</p> <p>Print ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/1180424636">P-ISSN: 1978-8940 </a></p> <p>Online ISSN : <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20210910021069703">E-ISSN 2807-940X</a></p> <p>Publisher : STIKES Yarsi Mataram</p> <p>Indexed : <a href="https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/26972">Garuda</a>| <a href="https://scholar.google.com/citations?hl=en&amp;authuser=2&amp;user=N7Wh_XkAAAAJ">Google Scholar</a></p> <p><strong>Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram </strong>is a scientific journal published by STIKES Yarsi Mataram. Published online since 2021 with ISSN <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20210910021069703">2807-940X</a> (Online). Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram contains scientific articles resulting from research and critical reviews, case reports, or case studies in the fields of health, nursing, and midwifery. The languages used in this journal are Indonesian and English. The STIKES Yarsi Mataram Scientific Journal is available free (open access) to all readers.</p> <p>Please read these guidelines carefully! Every manuscript sent to the journal editorial office must follow the writing guidelines. If the manuscript does not comply with the author guidelines or any manuscript is written in a different format, the article will be REJECTED before further review. Only manuscripts that are submitted and meet the journal format will be processed further.</p> Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan YARSI Mataram en-US Jurnal Ilmiah STIKES Yarsi Mataram 1978-8940 Hubungan Dukungan Peran Orang Tua dengan Interaksi Sosial pada Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri Pringsewu Lampung https://journal.stikesyarsimataram.ac.id/index.php/jik/article/view/312 <p>Menurut <em>World Health Organization</em> (2017), diperkirakan jumlah anak retardasi mental di Indonesia sebanyak 6,6 juta jiwa. Insiden tertinggi pada anak masa sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. Anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan mental yang sangat berat sehingga sering mengalami kesulitan dalam mengurus diri, dukungan peiran oirang tua sangatlah dibutuhkan kareina anak tidak dapat tumbuh dan beirkeimbang deingan baik tanpa adanya oirangtua teirutama pada anak berkebutuhan khusus, feinoimeina ABK di seikoilah dalam berinteraksi sosial meireika teirlihat teitap diam dalam keiloimpoik dan bahkan tidak mau beirgabung dalam keiloimpoik beilajar. Tujuan penelitian ini adalah untuk meingeitahui adanya hubungan dukungan peiran oirang deingan inteiraksi soisial pada anak beirkeibutuhan khusus di SLB Pringseiwu tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, desain penelitian observasi analitik dengan menggunakan pendekatan <em>Cross sectional. </em>Subjek penelitian ini adalah wali murid SLB pringsewu dan objek penelitiannya adalah hubungan dukungan peran orang tua dengan interaksi sosial pada anak berkebutuhan khusus di SLB pringsewu. Adapun tempat penelitiannya di SLB pringsewu, penelitian dilakukaan di SLB pringsewu, dengan jumlah sampel 64 wali murid SLB pringsewu. Teknik pemilihan sampel dalam penelitian adalah <em>cluster</em><em> sampling. </em>Analisa bivariate dalam penelitian ini menggunakan <em>chi-square.</em> Hasil penelitian dari variable dukungan peran orangtua dengan interaksi sosial anak berkebutuhan khusus di SLBN Pringsewu diperoleh nilai <em>p-value </em>0,007 (&lt;0,05) dapat disimpulkan bahwa H<sub>o </sub>ditolak artinya ada hubungan dukungan peran orangtua dengan interaksi sosial anak berkebutuhan khusus di SLBN Pringsewu. Diharapkan pihak SLBN Pringsewu dapat mengadakan atau memfasilitasi guru maupun orangtua terkait pelatihan mengenai cara atau strategi dalam melatih interaksi sosial pada anak berkebutuhan khusus</p> Ayu Setia Putri Feri Kameliawati Rini Palupi Rizki Yeni Wulandari Copyright (c) 2024 Ayu Setia Putri, Feri Kameliawati, Rini Palupi, Rizki Yeni Wulandari https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-03-06 2024-03-06 14 1 1 11 10.57267/jisym.v14i1.312 Smoking Behaviour is a Protective Factor Against the Degree of Knee Osteoarthritis https://journal.stikesyarsimataram.ac.id/index.php/jik/article/view/316 <p>Osteoarthritis lutut adalah penyakit kronik progresif karena kelainan struktur sendi lutut yang menjadi keras sehingga dapat menyebabkan limitasi dalam bergerak. secara umum, osteoarthritis paling sering diakibatkan karena usia yang semakin tua. usaha untuk mencegah terjadinya osteoarthritis bertambah karena beberapa studi juga mengkomparasikan kejadian osteoarthritis dengan kebiasaan merokok. merokok adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh orang indonesia dengan total 1,1 milyar orang perokok dan indonesia peringkat tiga terbanyak dibawah cina dan india. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku merokok dengan derajat osteoarthritis menurut Kellgren - lawrence di Rumah Sakit Muhammadiyah Siti Khodijah Sidoarjo. design penelitian cross sectional berjenis penelitian quantitative. Sampling akan menggunakan stratified sampling dengan 51 sample penelitian. teknis pengambilan sampel yaitu menggunakan kuisioner untuk mengetahui indikator perilaku merokok pada pasien dan foto radiologi lutut untuk mengetahui derajat dari osteoarthritis lutut. analisis Bivariat menggunakan uji spearman pada platform SPSS menunjukan hasil p value 0,000 (p&lt;0,05). Hasil tersebut menunujukan adanya hubungan yang signifikan antara hubungan perilaku merokok terhadap derajat osteoarthritis menurut Kellgren - Lawrence. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan perilaku merokok terhadap derajat osteoarthritis menurut Kellgren - Lawrence di Rumah Sakit muhammadiyah Siti Khodijah Sidoarjo. Saran selanjutnya wajib untuk dicari tahu dengan penelitian percobaan agar melihat faktor kunci protektif pada osteoartritis lutut.</p> Damara Oky Caesario Briliant Citra Wirashada Kartika Prahasanti Muslim Andala Putra Copyright (c) 2024 Damara Oky Caesario, Briliant Citra Wirashada, Kartika Prahasanti, Muslim Andala Putra https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-03-06 2024-03-06 14 1 12 21 10.57267/jisym.v14i1.316 Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut pada Balita dipengaruhi oleh Perilaku Ibu https://journal.stikesyarsimataram.ac.id/index.php/jik/article/view/333 <p><strong><em>Background:</em></strong><em> The relationship between mother's behavior and the occurrence of ISPA is that the mother always burns rubbish at home. This makes it very easy for toddlers to contract acute respiratory infections. Relationship between mother's behavior shows the susceptibility of getting upper or lower respiratory tract diseases which are included in the class of Air Borne Disease or those that are transmitted through the air by inhalation which can cause various spectrum of diseases ranging from asymptomatic disease or mild infection to severe and deadly disease, depending on the causative pathogen<strong>. Objective:</strong> To determine the relationship between maternal behavior and the incidence of ISPA in toddlers in the Tanjung Karang Health Center, Mataram City. <strong>Method:</strong> This research uses an analytical survey research design with a cross sectional approach. The population in this study were 97 toddlers aged 0-5 years who had suffered from ISPA in the last 2 years. The sampling technique for this research is purposive sampling. Methods of data collection using a questionnaire. The statistical test used in this research is Chi-Square. <strong>Results:</strong> The results of this study indicate that there is a significant relationship between maternal behavior and the incidence in toddlers in the Tanjung Karang Health Center, Mataram City with a P-Value of 0.014 &lt;0.05. Conclusion: Maternal behavior is one of the causes of ISPA in toddlers in the Tanjung Karang Health Center , Mataram City. <strong>Suggestion:</strong> It is hoped that parents will pay more attention to the health of toddlers and pay attention to active behavior so that toddlers do not get ISPA.</em></p> <h1>ABSTRACT</h1> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Hubungan perilaku ibu dengan kejadian ispa adalah ibu selalu membakar sampah dirumah. Hal ini mudah sekali terkenanya penyakit ispa pada balita. Hubungan perilaku ibu menunjukkan mudahnya terkena penyakit saluran pernapasan atas atau bawah yang termasuk penyakit golongan Air Borne Disease atau yang ditularkan melalui udara dengan inhalasi yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya. <strong>Tujuan: </strong>Untuk mengetahui hubungan perilaku ibu dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain penelitian survey analitik dengan pendekatan <em>cross sectional. </em>Populasi dalam penelitian ini yaitu balita berusia 0-5 tahun yang pernah menderita ISPA 2 tahun terakhir yaitu sebanyak 97 balita. Teknik sampling penelitian ini yaitu <em>Purposive sampling</em>. Metode pengumpulan data menggunakan kuisioner. Uji statistic yang digunakan dalam penelitian ini adalah <em>Chi-Square</em>. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara Perilaku Ibu dengan kejadian ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram dengan <em>P-Value</em> 0,014&lt;0,05. <strong>Kesimpulan: </strong>Perilaku ibu merupakah salah satu penyebab terjadinya ISPA pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Karang Kota Mataram. <strong>Saran:</strong> Diharapkan agar orang tua lebih memperhatikan kesehatan balita dan memperhatikan perilaku yang aktif agar balita tidak terkena ispa.</p> indah indah Lalu Dedy Supriyatna Copyright (c) 2024 indah, Lalu Dedy Supriyatna https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-03-06 2024-03-06 14 1 22 31 10.57267/jisym.v14i1.333 Senam Prolanis Menurunkan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi https://journal.stikesyarsimataram.ac.id/index.php/jik/article/view/335 <p><em>H</em><em>y</em><em>pertension is a person who is said to be hypertensive if he has a systolic blood pressure of more than 140 mmHg and a diastolic blood pressure of more than 90 mmHg. One way to handle hypertension is physical activity such as Prolanis gymnastics. The purpose of this study was to determine the effect of prolanis exercise on reducing blood pressure in hypertensive patients in Jerowaru village, East Lombok. This research method used experimental research with a pre-experimental type with a one group pre-test post-test design. The population in this research is 108 respondents. The sampling technique used is Simple random sampling with a sample size of 15 people. The statistical test used was the Wilcoxon signed rank test to determine the effect of reducing blood pressure before and after prolanis exercise. Results: statistical test results were obtained with a p value for the 1st meeting pre-post systole = 0.001 and diastole = 0.002 (&lt;0.05), while for the 2nd meeting pre-post systole = 0.002 and diastole = 0.026 (&lt;0. 05). The results obtained showed that prolanis exercise had an effect on reducing blood pressure in hypertensive patients. Conclusion: There is an effect of prolanis exercise on reducing blood pressure in hypertensive patients. Suggestion: It is expected that hypertensive patients are diligent in maintaining their diet and lifestyle.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Hipertensi adalah seorang dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Salah satu penangan hipertensi yaitu dengan aktifitas fisik seperti senam prolanis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam prolanis terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi di desa Jerowaru Lombok Timur. Meteode penelitian ini menggunakan penelitian ekperimen dengan jenis <em>pre eksperimental </em>dengan rancangan penelitian <em>one group pre-test post-test design</em>. Populasi dalam penelitian ini sejumlah 108 responden. Teknik sampling yang digunakan adalah <em>Simple random sampling </em>dengan besar sampel sejumlah 15 orang. Uji statistik yang digunakan adalah uji <em>Wilcoxon signed rank test </em>untuk mengetahui pengaruh penurunan tekanan darah sebelum dan sesudah dilakukan senam prolanis. Hasil : didapatkan hasil uji statistik dengan nilai <em>p value </em>untuk pertemuan 1 pre-post sistol = 0,001 dan diastol = 0,002 (&lt;0,05), sedangkan untuk pertemuan ke-2 pre-post sistol = 0,002 dan diastol = 0,026 (&lt;0,05). Hasil yang diperoleh bahwa senam prolanis terdapat pengaruh untuk penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Kesimpulan: Ada pengaruh senam prolanis terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi. Saran: Diharapkan pasien hipertensi rajin menjaga pola makan dan pola hidup.</p> <p> </p> Baik Henirispawati Ernawati Ernawati Supriyadi Supriyadi Copyright (c) 2024 baikhenirispawati, Ernawati, Supriyad https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-03-06 2024-03-06 14 1 31 39 10.57267/jisym.v14i1.335 Pengaruh Ekstrak Daun Sirsak terhadap Tingkat Mortalitas Pediculosis Capitis pada Santri https://journal.stikesyarsimataram.ac.id/index.php/jik/article/view/343 <p><em>Head lice infestation with pediculosis capitis is a serious problem that is not well- respected in Indonesia. Most Indonesians tend to let pediculosis capitis multiply on their heads. This head lice infestation causes problems with a lack of focus due to head lice activity. The most effective eradication of head lice is by using chemical pediculosides. Soursop leaves contain many secondary metabolites which have potential as bioinsecticides which can be used as pediculosides (head lice eradication). This study aims to determine the effect of soursop leaf extract on the mortality rate of pediculosis capitis. This study used a Quasy Experiment Time Series Design using a purposive sampling technique. The hypothesis test uses the One Way Annova statistical test with a significance level of α &lt;0.05. The study showed that 56 pediculosis capitis tails were divided into 4 treatments and 3 repetitions, namely not given soursop leaf extract (K0), given soursop leaf extract with a trial time of 5 minutes (P1), given soursop leaf extract with a trial time of 10 minutes (P2). was given soursop leaf extract with a trial time of 15 minutes (P3). The results showed that the percentage of pediculosis capitis mortality from the soursop leaf extract treatment, it was known that the highest mortality was in the P2 and P3 treatments of the soursop leaf extract. While the lowest number of deaths occurred in the K0 treatment without using soursop leaf extract at all 0%. The above results show that the number of head lice deaths increases with increasing time used. Based on the research above, soursop leaf extract by direct spraying method on head lice with 5, 10, 15minute observations had an effect on head lice mortality. The higher the observation time studied, the higher the head lice mortality rate. The results show that the mortality rate is higher the longer the time given.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Infestasi kutu kepala pediculosis capitis merupakan masalah serius yang tidak ditanggapi dengan baik di Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia cenderung membiarkan pediculosis capitis berkembangbiak dikepala mereka. Infestasi kutu kepala ini menyebabkan masalah kurang fokusnya pikiran karena aktifitas kutu kepala. Pemberantasan kutu kepala paling efektif dengan menggunakan pedikulosida kimiawi. Daun sirsak mempunyai banyak kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai bioinsektisida yang dapat digunakan sebagai pedikulosida (pemberantas kutu kepala). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun sirsak terhadap tingkat mortalitas pediculosis capitis. Penelitian ini menggunakan desain Quasy Eksperimen Time Series Design dengan menggunakan Teknik purposive sampling. Uji hipotesis menggunakan uji statistic Kruskal-Wallis dengan tingkat kemaknaan α &lt; 0,05. Penelitian menunjukkan 56 ekor pediculosis capitis dibagi menjadi 4 perlakuan dan 3 kali pengulangan yaitu tidak diberi ekstrak daun sirsak (K0), diberi ekstrak daun sirsak dengan waktu uji coba 5 menit (P1), diberi ekstrak daun sirsak dengan waktu uji coba 10 menit (P2), diberi ekstrak daun sirsak dengan waktu uji coba 15 menit (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentase mortalitas pediculosis capitis dari perlakuan ekstrak daun sirsak, diketahui bahwa kematian tertinggi terdapat pada perlakuan P2 dan P3 ekstrak daun sirsak. Sedangkan jumlah kematian terendah terjadi pada perlakuan K0 dengan tidak menggunakan ekstrak daun sirsak sama sekali 0%. Hasil diatas menunjukkan bahwa jumlah kematian kutu kepala meningkat seiring dengan peningkatan waktu yang digunakan. Berdasarkan penelitian diatas bahwa ekstrak daun sirsak dengan metode penyemprotan langsung pada kutu kepala dengan pengamatan 5,10,15 menit memeberikan pengaruh terhadap mortalitas kutu kepala. Semakin tinggi waktu pengamatan yang diteliti maka semakin tinggi pula tingkat mortalitas kutu kepala. Hasil menunjukan bahwa tingkat mortalitas semakin tinggi apabila waktu yang diberikan semakin lama.</p> <p> </p> devin ninuk Achmad Zakaria Zuliani Zuliani Nailin Nada Copyright (c) 2024 devin ninuk, Achmad Zakaria, Zuliani, Nailin Nada https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-03-06 2024-03-06 14 1 40 45 10.57267/jisym.v14i1.343 Neuropati Diabetes Sebagai Faktor Predisposisi Terjadinya Luka Pada Kaki https://journal.stikesyarsimataram.ac.id/index.php/jik/article/view/336 <p><em>Patients with diabetes mellitus without proper management may develop complications. Diabetic neuropathy is one of the most common complications. Peripheral neuropathy is the most common form of diabetic neuropathy and often leads to </em><em>leg</em><em> ulcer. The objective of this study is to provide an overview of neuropathy in diabetes mellitus as a contributing factor to the appearance of </em><em>leg</em><em> ulcer. The design and methods that were used were a literature review using databases from several studies, such as PubMed and Google Scholar articles, to meet inclusion criteria and publish in journal reviews</em><em> in the last 10 years</em><em>. Several suitable findings were then discussed and summarized. The result found four articles that met the inclusion criteria and discussed the incidence of neuropathy and the appearance of </em><em>leg</em><em> ulcer. The conclusion from this study showed that the average number of patients with diabetes mellitus who experienced neuropathy was 50.87% and </em><em>leg</em><em> ulcer were 14.6%. Patients with peripheral neuropathy have an 11.2 times greater chance of having a </em><em>leg ulcer</em><em>. The occurrence of </em><em>leg ulcer</em><em> due to neuropathy in patients with diabetes mellitus can be prevented as early as possible with routine examinations and actions or behaviors to support </em><em>leg</em><em> ulcer not to occur.</em></p> <p> </p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Pasien dengan diabetes melitus bila tidak dikelola dengan baik dapat mengalami komplikasi. Neuropati diabetes adalah salah satu komplikasi yang umum terjadi. Neuropati perifer merupakan bentuk neuropati diabetik yang paling sering ditemukan dan sering menjadi penyebab terjadinya luka pada kaki. Tujuan: Penelitian ini untuk memberikan gambaran tentang neuropati pada diabetes melitus sebagai faktor penyebab munculnya luka pada kaki. Desain: Literature review. Metode: Penelusuran menggunakan database dari Jurnal, literature review melalui Pub-Med, Google Scholar sesuai kriteria inklusi dan dipublikasikan dalam review jurnal 10 tahun terakhir. Hasil pencarian yang tepat kemudian dibahas dan disimpulkan. Hasil: Penelusuran menghasilkan empat artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan semua membahas tentang kejadian neuropati dan munculnya luka pada kaki. Kesimpulan: Temuan hasil penelitian didapatkan rata rata pasien diabetes melitus yang mengalami neuropati sebesar 50,87% dan luka pada kaki sebesar 14,6%. Pasien dengan neuropati perifer memiliki kemungkinan 11,2 kali lebih besar mempunyai resiko terjadi luka pada kaki. Terjadinya luka pada kaki akibat adanya meuropati pada pasien diabetes melitus dapat dicegah sedini mungkin dengan pemeriksaan runtin dan tindakan atau berperilaku untuk mendukung agar luka pada kaki tidak terjadi.</p> <p> </p> sriyati sriyati Copyright (c) 2024 sriyati sriyati https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2024-03-06 2024-03-06 14 1 46 52 10.57267/jisym.v14i1.336